Di era modern ini, pendidikan merupakan fondasi penting yang mempersiapkan generasi muda untuk menghadapi dunia kerja. Namun, teknologi telah berkembang pesat sehingga pekerjaan pun semakin beragam, sehingga persaingan dalam dunia kerja juga semakin ketat. Mengutip World Economic Outlook, dari 279,96 juta penduduk Indonesia, sekitar 5,2 persennya adalah pengangguran. Hal ini membuat Indonesia menjadi negara dengan tingkat pengangguran tertinggi di ASEAN. Tentu ini menandakan adanya kejanggalan antara pendidikan dan dunia kerja. Namun, benarkah sistem pendidikan kita sudah tidak relevan dengan pekerjaan di zaman sekarang? Ataukah ada faktor lain yang memengaruhi ini?
Seperti yang kita ketahui, pesatnya perkembangan teknologi telah banyak memengaruhi dunia kerja. Dilansir dari narasi.tv, disebutkan bahwa banyak pekerjaan yang berpotensi akan menghilang di masa depan karena tergantikan oleh kecerdasan buatan. Misalnya seperti guru, customer service, akuntan, desainer grafis, programmer, dan pekerjaan-pekerjaan lainnya yang dinilai dapat digantikan oleh kecerdasan buatan. Sayangnya, sistem pendidikan kita belum sepenuhnya mampu beradaptasi dengan perubahan ini. Masih banyak lulusan perguruan tinggi yang merasa kesulitan dalam mencari pekerjaan karena kurangnya keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja pada saat ini.
Pendidikan yang lebih menekankan aspek teoritis dibandingkan aspek praktik juga menjadi salah satu permasalahan. Berdasarkan Widyatama.ac.id, disebutkan bahwa perguruan tinggi seringkali terlalu fokus pada aspek teoritisnya saja. Sementara seperti yang diketahui, dunia kerja zaman sekarang menuntut kemampuan praktik lapangan dan pemecahan masalah secara nyata. Hal ini menyebabkan banyak lulusan baru merasa kurang siap untuk menghadapi tantangan di dunia kerja yang tidak mudah.
Berdasarkan Eduwork.id, dinyatakan bahwa masih banyak perusahaan yang mengeluhkan bahwa lulusan-lulusan baru kurang memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan perusahaan. Hal ini tentu menjadi salah satu bukti bahwa dunia pendidikan perlu menciptakan kurikulum yang dapat lebih selaras dengan tuntutan-tuntutan perusahaan kerja zaman sekarang. Tetapi, meskipun terdapat berbagai tantangan, bukan berarti sistem pendidikan kita sepenuhnya tidak relevan. Pendidikan juga tetap memiliki peran penting dalam membangun karakter dan pola pikir siswa untuk meraih kesuksesan. Karena banyak orang juga orang yang sukses setelah menamatkan perguruan tinggi.
Pemerintah telah berupaya untuk mengatasi permasalahan ini. Dilansir dari Kompas.com, disebutkan bahwa pemerintah telah meluncurkan program Kampus Merdeka yang memberikan hak bagi mahasiswa untuk mengambil mata kuliah di luar program studi dan berkegiatan di luar perguruan tinggi. Salah satu contoh implementasinya adalah Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik yang mengajak mahasiswa berkontribusi langsung bisa mengajar adik-adik Sekolah Dasar (SD) selama 12 minggu di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar). Oleh karena itu, mahasiswa diharapkan dapat lebih mengasah kepemimpinan dan kematangan sosial. Selain itu, soft skills seperti kemampuan berkomunikasi, kemampuan memimpin, dan kerja sama tim juga sangat dibutuhkan dalam dunia kerja. Setiap lulusan perguruan tinggi diharapkan memiliki soft skills yang mumpuni agar dapat tetap relevan dan terus bersaing dengan kecerdasan buatan.
Jika membahas mengenai relevansi sistem pendidikan dengan dunia kerja, tentu hal ini merupakan permasalahan yang kompleks. Banyak yang mengatakan bahwa sistem pendidikan dan dunia kerja tidak berjalan selaras, terutama akibat dari adanya perkembangan teknologi yang cepat. Tetapi, pendidikan tetap menjadi salah satu aset penting untuk membentuk sumber daya manusia yang siap untuk menghadapi dunia kerja di masa depan. Oleh karena itu, sangat diperlukan upaya bersama dari berbagai pihak untuk mengatasi permasalahan ini. Dengan membentuk kurikulum pendidikan yang relevan dan sesuai perkembangan zaman, diharapkan muncul banyak lulusan perguruan tinggi yang dapat bersaing di era kemajuan teknologi ini.
CNBC Indonesia. 2023. “Dampak Media Sosial Bagi Kehidupan Sehari – hari.” Diakses 28 Juli 2024. https://www.cnbcindonesia.com/tech/20230216184745-37-414484/siap-siap-10-profesi-ini-bakal-punah-diganti-teknologi-ai, 21:37 WIB.
Detikcom. 2024. “Tingkat Pengangguran Indonesia Tertinggi di ASEAN pada 2024”. Diakses 28 Juli 2024. https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-7456343/tingkat-pengangguran-indonesia-tertinggi-di-asean-pada-2024, 20:43 WIB.
Eduwork. 2023. “Tantangan dalam Mendapat Pekerjaan: Pendidikan dan Kebutuhan Pekerjaan Masih Kurang Sejalan”. Diakses 30 Juli 2024. https://eduwork.id/blog/4/tantangan-dalam-mendapat-pekerjaan-pendidikan-dan-kebutuhan-pekerjaan-masih-kurang-sejalan, 16:07 WIB.
Kompas. 2021. “Tren Edukasi Kompasiana: Kampus Merdeka Melawan Employee Mindset, Bullying di Sekolah, dan Plagiarisme dalam Kurikulum”. Diakses 30 Juli 2024. https://money.kompas.com/read/2021/02/11/041309426/tren-edukasi-kompasiana-kampus-merdeka-melawan-employee-mindset-bullying-di?page=all, 16:38 WIB.
Narasi. 2023. “Pekerjaan yang Bisa Digantikan AI”. Diakses 27 Juli 2024. https://narasi.tv/read/narasi-daily/pekerjaan-yang-bisa-digantikan-ai, 21:12 WIB.
Universitas Widyatama. 2023. “Relevansi Pendidikan Terhadap Dunia Kerja”. Diakses 27 Juli 2024. https://www.widyatama.ac.id/relevansi-pendidikan-terhadap-duni, 22:18 WIB.