Saat ini, sistem pendidikan di Indonesia telah menerapkan kurikulum terbaru mulai dari jenjang Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi yang disebut dengan kurikulum merdeka. Namun, masih belum bisa dipastikan kurikulum ini membuat pembelajaran lebih efektif dari sebelumnya. Pada awal pembuatan ataupun pengubahan kurikulum ini pastinya menimbulkan pro dan kontra, sebagian orang yang pro atau setuju dengan kurikulum ini mengatakan bahwa kurikulum merdeka ini sangat membantu memfasilitasi siswa untuk berkembang secara optimal, mengurangi tekanan pada siswa, serta meningkatkan kreativitas siswa. Tetapi ada juga beberapa yang berpendapat bahwa dengan adanya kurikulum tersebut dapat menimbulkan ketidakpastian, memperparah kesenjangan pendidikan, ataupun membebani guru. Namun, pada setiap kurikulum pastinya tetap mempunyai dampak positif terhadap dunia pendidikan terkhususnya di Indonesia.
Banyak siswa menilai bahwa kurikulum merdeka belajar ini merupakan kurikulum yang melelahkan dan merepotkan. Pada dasarnya kurikulum ini mengasah keterampilan dan kemandirian setiap siswa sehingga bisa dikatakan kurikulum ini banyak memberi tugas secara praktik. Namun, beban materinya tidak seberat Kurikulum 2013 karena dalam kurikulum ini, sebanyak 30 persen beban pelajaran murid ada pada praktik dan sisanya adalah teori. Dalam konsep kurikulum merdeka, dengan adanya guru dan siswa belajar bersama maka akan tercipta konsep pembelajaran yang lebih aktif dan efektif bagi guru dan siswa. Lantas apakah kurikulum merdeka merupakan kurikulum yang paling efektif, terutama di tingkat SMA?
Walaupun demikian, kurikulum merdeka ini bisa menjadi efektif jika dapat diimplementasikan dengan baik dan dinilai dari sisi positifnya. Kurikulum merdeka memberikan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan siswa serta memberi ruang yang lebih luas pada pengembangan karakter dan keterampilan siswa. Program Merdeka Belajar hanya bisa terwujud jika program regulasi dan berbagai intervensi yang dilakukan pemerintah mampu membuat perubahan di tiap-tiap satuan pendidikan.
Maka dari itu, karena konsep Kurikulum Merdeka sangat berbeda atau ‘out of the box’ dibandingkan dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya, Kemendikbudristek perlu bekerja keras dalam mensosialisasikan konsep hingga penerapannya di sekolah. Program kurikulum merdeka tidak hanya menentukan kemampuan dan pengetahuan siswa berdasarkan nilai, namun juga menilai adab, moral, dan keterampilan siswa di lingkungan sekolah. Siswa juga diberi kebebasan untuk mengembangkan bakatnya sebaik mungkin. Hal ini dapat mendukung kreativitas siswa dan akan diwujudkan melalui bimbingan dari para guru.
Kepala Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek Anindito Aditomo juga mengatakan alasan Kemendikbudristek lebih memfokuskan pada pengembangan kompetensi dasar dan karakter adalah karena pendidikan di Indonesia sudah lama mengalami krisis belajar dan tidak membaik dari tahun ke tahun. Dari data PISA (Programme for International Student Assessment) yang beliau kutip, sampai 20 tahun terakhir menunjukkan kecakapan dasar seperti kemampuan memahami bacaan, kemampuan menyelesaikan masalah menggunakan matematika sederhana dan kemampuan menalar secara ilmiah, hasilnya adalah para siswa masih banyak yang belum mengembangkan kemampuan mereka dalam bidang-bidang tersebut. Ternyata hanya sekitar 30% siswa Indonesia yang memenuhi standar minimum kemampuan membaca, problem solving matematika dan literasi sains. Menurut beliau, kurikulum merdeka memiliki tiga kelebihan yang dapat mendukung pemulihan dari krisis belajar yaitu fokus pada materi esensial, pembelajaran berbasis pengembangan karakter dan soft skill, dan guru lebih fleksibel dalam melakukan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan murid.
Maka, penerapan kurikulum merdeka terutama di tingkat SMA menjadi salah satu solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah krisis belajar. Kebebasan yang diberikan kurikulum merdeka untuk mengakses ilmu pengetahuan dari manapun memudahkan para siswa untuk belajar mandiri terutama pada era serba digital saat ini. Dengan metode pembelajaran yang tidak melulu berada di dalam kelas saja, tetapi banyak pembelajaran di luar kelas dapat mengasah keterampilan siswa dalam bersosialisasi dengan sesama dalam masyarakat. Dengan adanya Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) juga membuka karakter-karakter baru dari para peserta didik yang sebelumnya belum terlihat atau menonjol. Mungkin beberapa siswa menganggap hal seperti ini merepotkan dan melelahkan untuk dilakukan. Namun percayalah, semua praktik yang dilakukan ini akan berguna kelak dalam dunia kerja. Terutama kemampuan sosialisasi, public speaking yang baik, serta problem solving dan pemahaman yang tinggi.
Ananda, Fani. 2023. Kurikulum Merdeka Efektif untuk Pembelajaran SMA. Diakses 31 Juli
2024. https://encr.pw/Lc8gE. 19.38 WIB.
Destari, Elisabeth Dhea. 2023. Kurikulum Merdeka Belajar Apakah Lebih Efektif dalam
Belajar?. Diakses 30 Juli 2024. https://l1nq.com/uL8YW. 20:49 WIB.
Firmansyah, M. Julnis. 2022. Pro Kontra Kurikulum Merdeka Besutan Nadiem Makarim.
Diakses 31 Juli 2024. https://rb.gy/qgn74t. 21:32 WIB.
Juniardi, Wilman. 2023. Keunggulan Kurikulum Merdeka Beserta Manfaat dan Dampak
Positifnya. Diakses 31 Juli 2024. https://encr.pw/Lqmt2. 21.05 WIB.
Ramadhan, Bilal. 2022. Kurikulum Merdeka: Ideal atau Hanya Utopia?. Diakses 30 Juli
2024. https://acesse.dev/4PfhD. 20:25 WIB.